2019, ODHA di Cianjur Meningkat

Kabupaten Cianjur – Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur, terus bertambah dari waktu ke waktu. Kurun lima tahun terakhir, trennya meningkat.

Data pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur menunjukkan jumlah penderita HIV/AIDS tahun ini naik dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari 140 orang menjadi 158 orang hingga Oktober.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Cianjur, Rostiani Dewi menyebutkan, kalangan LSL (lelaki seks lelaki) mendominasi jumlah ODHA (orang dengan HIV/AIDS) tahun ini, yakni sebanyak 71 orang.

“Sisanya dari kalangan wanita penjaja seks, waria, pengguna narkoba jarum suntik dan masyarakat umum, termasuk ibu rumah tangga, anak-anak dan juga balita,” tutur Rostiani kepada Masaginews.com, Sabtu (30/12/2019).

Menurut dia, dominasi ODHA dari kaum biseksual tersebut tidak terlepas dari fenomena seks antarlelaki di Kabupaten Cianjur yang merebak dalam beberapa tahun terakhir ini.

“Aktivitas seks menyimpang ini paling rentan dalam penularan HIV/AIDS, sehingga tidak mengherankan jumlah penderitanya terus meningkat dari tahun ke tahun,” kata dia.

Oleh karena itu, ODHA dari kalangan LSL saat ditemukan (diperiksa) banyak yang sudah stadium AIDS. Pihak dinas sendiri mengaku kesulitan untuk menjangkau komunitas mereka karena tertutup.

“Karenanya, bersama KPA (Komisi Penanggulangan Aids) kita gandeng NGO-NGO agar bisa menjangkau komunitas tersebut. Ternyata saat dilakukan tes terhadap mereka, banyak yang sudah positif (HIV/AIDS),” ucapnya.

Menurut Rostiani, ada banyak faktor yang memicu maraknya perilaku seks antarlelaki di Kabupaten Cianjur. Selain soal orientasi seksual, gaya hidup dan tuntutan ekonomi juga turut menjadi faktor pemicu.

“Ada juga karena broken home. Mencari pelarian hingga bergabung dengan komunitas itu yang dirasa lebih memberikan rasa nyaman, termasuk juga ada yang diakibatkan pengalaman masa lalu yang buruk, seperti pernah menjadi korban sodomi,” terang dia.

Perilaku seks antarlelaki ini, dikatakannya, telah menyasar hampir semua kalangan, pegawai swasta, ASN (pegawai pemerintahan), buruh pabrik hingga pelajar dan mahasiswa.

“Hal ini tentu harus menjadi perhatian semua pihak. Pasalnya, ada kasus pelajar yang jadi LSL lebih karena tuntutan gaya hidup, dijanjikan dibelikan handphone atau diiming-imingi materi lainnya,” ujarnya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Cianjur, Hilman menambahkan, jumlah ODHA dari kalangan LSL di Kabupaten Cianjur cukup masif. Setiap bulannya selalu saja ada temuan kasus baru.

“Rata-rata mereka usia produktif, 17 hingga 35 tahun. Malah ada yang masih berstatus pelajar SMP, namun persentasenya kecil,” kata Hilman.

Pihaknya mengaku kesulitan untuk menekan dan mencegah penyebaran HIV/AIDS di kalangan LSL karena keberadaannya yang sulit dideteksi.

“Soalnya mereka tidak menegaskan diri dari segi penampilan, malah di antara mereka ada juga yang punya istri dan anak. Namun, suka melakukan aktivitas seks antarlelaki, termasuk juga dengan waria,” ucapnya.

Selain seks antarlelaki, sambung Hilman, seks bebas dengan gonta-ganti pasangan menjadi penyebab dominan lainnya penyebaran penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh tersebut di Kabupaten Cianjur.

“Kalau dari sebarannya (pengidap HIV/AIDS), terpusat di daerah perkotaan, dan di wilayah-wilayah yang ada tempat-tempat wisata,” ucapnya. ***