Diduga Korban Perbudakan Modern, PMI Cianjur Disekap Keadaan Sakit

Kabupaten Cianjur – Siti Aisah binti Sahimi Nurman (42) seorang Pekerja Migram Indonesia (PMI) asal Desa Sukajadi, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, menjadi korban kekejaman pihak syarikah (Agency). Korban di sekap di kamar dalam keadaan sakit parah.

Informasi yang dihimpun, PMI tersebut berangkat pada bulan Junuari 2020, yang dibawa oleh tiga orang oknum calo atau sponsor ke PT Sahara yang beralamat di Jakarta. Namun, niat bekerja di luar negeri pun pudar, Siti diduga menjadi korban perbudakan modern dengan pemberngkatan PMI ilegal.

Anak kandung PMI, Angga Gilang Prayoga (23) mengatakan, dirinya mengetahui ibunya ada diluar negeri tepatnya di Kota Riyadh Saudi Arabia setelah ada chat whatsap, bahwa sakit keras dan disekap di kamar sendirian oleh pihak syarikah.

“Ya, kalau setahu saya berangkatnya juga tidak ada ijin,” ujar Gilang.

Menurutnya, ibu kandungnya tersebut kini tengah sakit keras, bahkan kiriman foto nya tersebut, Siti mengalami pendarahan dari hidung dan mulut. Namun yang disesalkannya, kenapa ibunya itu harus dikurung dikamar sendirian dalam keadaan sakit. “Ibu bilang bahwa dirinya berobat pakai uang sendiri,” ujar dia,

Setelah mendapatkan kabar ibunya, Gilang pun melaporkan dan meminta bantuan ke DPC Astakira Cianjur. Pihaknya berharap, agar ibunya itu bisa secepatnya dipulangkan ke Indonesia.

“Awalnya saya bingung harus kemana minta tolong, alhamdulillah ada teman ngajak ke kantor astakira,” ungkapnya.

Sementara, Ketua DPC Astakira Cianjur, Ali Hildan mengatakan, pihak Astakira langsung mengadukan kasus tersebut ke BP2MI, agar PMI tersebut secepatnya mendapatkan perlindungan dan dipulangkan ke tanah air. “Kami sudah mengadukan kasusnya ke BP2MI,” kata Ali.

Menurut Ali, Siti Aisyah diduga menjadi korban perbudakan modern atau korban TPPO. Lantaran, lanjut dia, setelah tahun 2015 tidak ada lagi pemberangkatan pekerja migran ke kawasan timur tengah setelah adanya moratorium kepmen 260 tahun 2015.

“Kami sudah mencoba berupaya menghubungi pihak oknum sponsor atau perusahaannya, namun tidak ada itikad baik untuk memulangkan korban ke tanah air,” ucapnya.

Untuk itu, kata dia, tim divisi hukum Astakira Cianjur akan segera melaporkan kasus tersebut ke penegakan hukum. “Kami akan segera mengambil langkah melaporkan kasus tersebut kepihak kepolisian,” tegasnya. ***