Menelisik Keunikan Kampung Cibeas Yang Kental Sejarah

M Rizal Jalaludin
Reporter Sukabumi Selatan

Kabupaten Sukabumi – Siapa sangka di Kampung Cibeas, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi tersimpan berbagai hal unik yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan yang singgah di daerah tersebut. Berbagai sejarah dan keunikan adat istiadat menjadikan kampung yang didirikan sejak 03 Maret 1993 ini memiliki ciri khas tersendiri.

Menurut Simal Nurhaidi (80) atau akrab disebut Abah Simal selaku sesepuh setempat, dinamakan Kampung Cibeas karena konon dulu terdapat sumber air yang berwarna putih menyerupai air cucian beras. Oleh karenanya hingga kini kampung tersebut dikenal dengan kampung Cibeas yang diambil dari bahasa sunda yang artinya air beras.

Sebelum menjadi perkampungan seperti saat ini, wilayah ini awal mulanya adalah sebuah hutan. Namun kemudian, mendiang ayah Abah Simal yakni Muhammad Hasan Saidina Galih Qutub Robani membuka hutan tersebut dan membuatnya menjadi sebuah perkampungan yang kemudian dinamai Kampung Cibeas.

“Ada beberapa bangunan yang unik juga disini. Seperti rumah berbentuk perahu dengan ukuran panjang kurang lebih 20 meter persegi. Uniknya karena setiap bangunan ini mengandung filosofinya tersendiri. Misalnya rumah berbentuk perahu itu dibuat untuk mengenang kisah Nabi Nuh,” jelasnya saat ditemui Masaginews.com, Sabtu (06/07).

Selain itu, adapula dua patung tokoh yang sangat ikonik di Indonesia yakni Soekarno dan Gadjah Mada yang sedang berjabat tangan. Patung tersebut sengaja didirikan sebagai penanda bahwa hingga kini masyarakat meyakini sejarah persatuan bangsa diwariskan oleh Patih Gadjah Mada yang telah menyatukan beberapa kerajaan nusantara. Lalu ikatan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Presiden Soekarno melalui pernyataan kedaulatan negara dengan proklamasi kemerdekaan.

Sementara itu bangunan unik lainnya yakni masjid yang atapnya berbentuk pesawat terbang yang bernama Masjid Robbul Alamin. Masjid ini mengandung filosofi bahwa setiap ibadah shalat yang dilaksanakan akan mengantarkan pada kesempurnaan lahir dan batin.

Hampir semua bangunan di kampung ini terbuat dari kayu dan bambu. Hal ini dimaksudkan agar semua makhluk hidup harus hidup rukun dan berbaur dengan alam.

“Syukurlah hingga saat ini sudah banyak kemajuan yang terjadi di kampung kami. Sudah ada sekolah mulai dari PAUD hingga Madrasah Diniyah. Saya harap anak cucu generasi berikutnya bisa meneruskan cerita sejarah yang ada di Kampung Cibeas ini,” pungkasnya. (SF)