Heboh Kemunculan Kalong Wewe, Ini Kata Tokoh Palabuhanratu

Kabupaten Sukabumi – Baru-baru ini jagat media sosial (medsos), khusunya Facebook dihebohkan dengan penampakan kalong wewe atau lebih dikenal dengan nenek gombel yang sempat menggegerkan warga di Kampung Cipanengah, Kecamatan Cisolok,  Kabupaten Sukabumi.

Apa dan siapa sebenarnya hantu kalong wewe tersebut. Masaginews.com mewawancara salah seorang sesepuh atau tokoh masyarakat di Palabuhanratu, Abah Acep Nurjatin.

Jika diartikan dari namanya, kalong wewe berasal dari dua kata, yaitu kalong yang berarti kelelawar besar dan wewe adalah istilah untuk perempuan (awewe bahasa sunda).

Kalong wewe menurut cerita rakyat ditanah jawa adalah jelmaan jin wanita yang menjelma menjadi binatang kalong, dan juga bisa berwujud menyerupai manusia dengan rambut panjang gimbal dan dada besar. kemunculannya hanya disaat-saat tertentu, yakni pada saat pertemuan antara siang dan malam (menjelang magrib).

“Kalong wewe seperti kunti, sebangsa jin, kalau disebut penampakan kelong wewe itu payudaranya besar dan badannya besar seperti kalong, tapi wujudnya putih seperti kunti. Kalau wujud hitam juga ada aja,” ujarnya.

Kemunculan kalong wewe juga sering membuat resah warga karena suka menculik anak-anak. Meskipun pada akhirnya anak tersebut dapat ditemukan atau kembali sendiri, namun yang membuat para orang tua takut adalah perbuatan kalong wewe pada anak-anak saat dibawanya.

Abah Acep alias Abah Robert Kaneron ini memberikan tips ketika dikagetkan dengan makhluk yang disebut suka melayang itu.

“Antisipasinya dengan baca membaca Ayat Kursi berulang-ulang. Apalagi kalau kita sengaja mau mencarinya, persiapan saja baca ayat kursi. Kalau mau melihat penampakannya itu malam hari, biasanya hinggap diatas pohon. Kalong wewe itu takut sama orang yang sering melantunkan Ayat-ayat Allah, artinya selalu berzikir ingat dengan yang Maha Kuasa,” bebernya.

Abah Acep juga berkisah, sekitar tahung 1980, warga di Pangsor Tangsi Palabuhanratu pernah digegerkan dengan kemunculan mahluk misterius itu.

“Mahluk itu menculik anak balita, spontan warga sekitar mencari keberadaan si anak itu. Tiga hari kemudian warga baru menemukan anak malang itu dalam keadaan sudah meninggal dunia di Rawakalong (sekarang disebut Cipatuguradi) tertutup semak belukar,” katanya. (M Rizal Jalaludin)