Kampung ini hanya Dihuni 20 KK, Kalau Lebih Bakal Begini

Kabupaten Sukabumi – Tak sedikit kampung di Indonesia yang memiliki legenda, kutukan, serta hal yang berkaitan dengan sesuatu yang kadang di luar nalar manusia. Keberadaan kampung-kampung tersebut bukan hanya mitos belaka melainkan sudah terbukti, bahkan tak sedikit wisatawan yang mengunjunginya hanya untuk membuktikan kebenarannya.

Seperti Kampung Lembur Bapakolot, yang terletak di RT 08/02 Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kampung ini memiliki cerita mitos dan unik yang dirasakan warga sekitar.

Karena, di Kampung Lembur Bapakolot, hanya boleh dihuni 20 kepala keluarga (KK). Apapun yang terjadi, hingga saat ini selalu hanya ada 20 KK yang tinggal di kampung tersebut.

Bila ada penghuni baru masuk, maka salah satu KK penghuni lama akan angkat kaki. Kalau tidak akan mengalami kejadian diluar nalar.

Lembur yang berbatasan dengan Kecamatan Sukalarang itu, dikelilingi aliran sungai Ciganda, suasana ‘pilemburan‘ masih terasa dengan udara sejuk.

Hampir setiap rumah warganya terlihat kolam ikan. Disekitar lembur terhampar luas kebun jagung dan tanaman palawija lainnya menambah pesona alam yang terbentang asri.

“Yang menetap hanya 20 KK, selebihnya penghuni lama harus keluar dari sini,” tutur Ahmadin saat ditemui masaginews.com dikediamannya.

Menurutnya, jika ada KK baru yang akan menetap disini (Lembur Bapakolot), salah satu warga lama akan pindah atau keluar dari lingkungan lembur.

“Kalo ada yang masuk keluarga baru kesini, biasanya salah satu keluarga diantara 20 KK itu akan merasa resah dan tidak betah. Akhirnya pindah keluar lembur ini, atau mengalami kejadian yang saya sendiri tidak mengerti,” kata pria asal Garut itu.

Cerita tersebut seperti sudah turun temurun, bahkan diketahui dirinya ketika pertama datang di lembur tersebut yang penghuninya hampir semua masih ada ikatan kerabat. “Tahun 2009 saya tinggal dan menetap disini, cerita dan kejadian itu masih terus terdengar,” ungkapnya.

Jika setelah menikah dan menetap beberapa waktu lamanya, namun tak ada gelagat keluarga yang pindah. Maka akan ada satu warga mengalami sakit dan meninggal dunia.

“Seperti yang dialami teman saya bernama Asep Supriatna yang meninggal dunia setelah saya menetap dan tidak ada yang pindah. Saat itu sempat bertanya dalam hati, apakah kejadian ini akibat kelebihan jumlah KK, saya juga tidak tahu, hanya kabar yang berkembang seperti itu,” urainya diliputi rasa haru.

Nama Lembur Bapakolot, diambil dari nama orang yang tua dahulu. Karena dulu ada seorang yang bernama Barjah memiliki ilmu dan bisa mengobati segala penyakit.

“Asal-usul nama Lembur Bapakolot dari panggilan bapak saya, bernama Barjah. Warga setempat menyebutnya Bapakolot hingga sekarang disebut Lembur Bapakolot,” terang Karma (60), anak dari Barjah atau Bapakolot.

Kata dia, Barjah sudah meninggal pada 2008 di usia 100 tahun. “Beliau terkenal suka mengobati berbagai penyakit, warga sekitar dan dari luar desa sering berobat kesini, dan lembur ini belum memiliki nama sehingga dikenal dengan sebutan itu,” bebernya. (Red)