Sosok Penunggu Muara Cimandiri yang Muncul di Gedung Tua Lambow Simpenan

LOKASI bekas Pos Observasi Bulan (POB) di lambow Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, ternyata menyimpan cerita misteri yang sulit diterima akal sehat. Kenapa ? tim Masaginews.com menelusuri dan merangkumnya.

Areal seluas 12 hektar itu terpisah dari pemukiman penduduk. Untuk menjangkau kesana, dari Kampung Babakan manggah melewati tanjakan cukup panjang, hingga diatas lahan datar tampak hamparan ilalang yang mengering akibat diterpa kemarau cukup lama. Ditengah areal tampak rumpun pohon jabon yang rindang sampai mendekati pelataran masjid.

Disebelah kiri ujung jalan aspal terlihat sebuah bangunan bertingkat tiga, itulah gedung tempat observasi bulan atau warga setempat menyebutnya teropong bintang yang sudah tidak digunakan lagi.

Berada pada lokasi yang tinggi, sehingga jelas melihat ke sekeliling, pandanganpun lepas hingga ke ufuk barat.

“Bapak tinggal disini dari sudah lama sekali, awalnya ikut kerja proyek pembangunan gedung ini hingga diresmikan tahun 1972,” kata penjaga gedung POB Engkos Koswara kepada Masaginews.com.

Selama berada di areal milik Kemenag itu, dia dipercaya merawat gedung dan menggarap lahan yang semula lahan ‘tidur’ menjadi lahan produktif ditanami berbagai jenis pohon kayu dan palawija.

“Disini ramai hanya jelang bulan suci Ramadhan dan hari raya umat Islam, penuh dikunjungi petinggi Kemenag dan para tokoh Ulama yang melaksanakan observasi bulan untuk merekomendasikan waktu hari besar. Sesudah kegiatan itu sepi lagi,” tutur kakek berusia 91 tahun itu.

Selama 48 tahun bermukim disitu, kakek Engkos menyaksikn banyak kejadian misterius. Dia mencontohkan suatu hari ditemani istrinya sesudah membersihkan gedung, seperti biasa dia terus ke ladang yang berada disamping gedung sementara istrinya pulang ke rumah.

“Saat membersihkan rumput diladang, tanpa terlihat datangnya ada sosok perempuan berbusana adat sunda terihat sedang membersihkan lidi kelapa, sambil menghampirinya, lalu bertanya, ‘neng dari mana, sepertinya bapak baru melihat neng’. Perempuan itu mengaku dari bawah sana dan dia mengaku sedang membuat sapu lidi,” ujarnya sambil menunjuk ke arah tebing yang hanya ditumbuhi semak belukar.

Merasakan hal yang aneh karena berpakaian tidak lazim, Engkos memberanikan diri bertanya kembali. “Saya langsung tanya ‘Kalo bapak minta golok itu yang neng pakai itu boleh kan’, dia menjawab ‘boleh, ayo ikut saja, sambil dia bergegas lari ke arah tebing yang dia tunjuk tadi dan menghilang,” beber kakek Engkos.

Kejadian serupa dia alami juga, sekitar tahun 2010 mulai dilaksanakan proyek pembangunan PLTU dekat muara Cimandiri. Ketika menanam palawija disebelah gedung itu. Menjelang tengah hari, Engkos merasakan panasnya terik matahari dan berniat ngaso berlindung sebentar dibawah pohon jabon.

Diatas gedung dilantai tiga terlihat jelas ada tiga perempuan dengan wajah dan penampilam serupa, menyandarkan tangannya dipagar besi pembatas.

“Sama, mengenakan pakaian adat sunda berbaju berukat dan ‘samping poleng’ (kain batik khas busana adat sunda), setelah di dekati kemudian di tanya. Dia mengaku Raden Centring Manik penunggu dasar muara Cimandiri,” kata Engkos seraya menunjuk ke arah muara yang tampak jelas.

Dilain waktu, perempuan cantik berusia sekitar 20 tahun itu terlihat hanya sendiri, sambungnya, mengaku merasa terganggu dengan bisingnya kegiatan proyek PLTU sehingga harus “ngaso” di gedung tua itu agar tidak merasakan bising mesin dan getaran tiang pancang yang ditanam.

“Dia hanya ikut ngaso menghindari bisingnya aktivitas proyek, dilain waktu juga dia sering terlihat berjalan disekitar ini, namun bapak biarkan aja selama dia tidak mengganggu,” pungkasnya. ***