Desa Digital Program Ridwan Kamil Tak Berkembang, Ini Alasannya

Kabupaten Sukabumi – Program Desa Digital yang digencarkan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil diawal masa jabatannya rupanya belum membuahkan hasil. Pasalnya warga desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi yang menjadi lokasi pertama program tersebut hingga kini belum merasakan manfaat yang signifikan.

Semula program Desa Digital ini bertujuan membangun infrastruktur digital atau layanan internet agar semakin mudah diakses oleh warga setempat, namun rupanya hal tersebut tidak berjalan mulus. Bahkan jaringan berkecepatan tinggi yang diharapkan justru tidak dapat dirasakan warga setempat.

Dari jumlah sekitar 8 ribu penduduk desa, mirisnya hanya segelintir warga yang bisa mengakses internet dari program Desa Digital tersebut. Padahal, dengan adanya Desa Digital diharapkan akses informasi masyarakat setempat bisa tembus ke dunia luar terbuka.

Ratih (24), warga setempat mengaku jaringan internet dari program Desa Digital tersebut sama sekali tidak berkembang. Bahkan jaringan internetnya pun sangat lambat dan wifi nya hanya bisa diakses di waktu-waktu tertentu saja.

“Sinyalnya sangat lemah jadi akses internet lelet dan wifi hanya bisa digunakan saat jam dan hari kerja kantor desa sekitar jam 08.00 WIB sampai jam 15.00 WIB,” ujarnya kesal.

Ia juga terlihat kebingungan saat beberapa kali mencoba mengakses internet melalui ponselnya yang tidak juga tersambung. Padahal, saat peresmian pada April 2019 lalu dijanjikan jaringan internet berkecepatan tinggi yang bisa diakses masyarakat.

Sementara itu, saat dihubungi terpisah, Sekretaris Desa Sirnarasa, Cakra mengatakan jaringan internet memang terasa lambat apabila terlalu banyak yang mengaksesnya. Hanya sebatas penggunaan media sosial seperti whatsapp saja yang masih bisa diakses.

“Masih terkendala karena kita cuma dikasih 265 Mbps. Awalnya kita ingin memberdayakannya untuk warga semua, tapi masalah kecepatannya masih kurang. Jadi daripada tidak sama sekali lemot pun kita gunakan, kami juga berterimakasih dengan adanya desa digital ini,” paparnya.

Cakra mengaku, pembatasan akses internet itu dilakukan karena saran dari salah seorang tokoh masyarakat yang menghimbau agar penggunaan internet bagi warga terutama kalangan anak-anak dan dewasa dibatasi.

Hal itu dilakukan karena ketika waktu beribadah masih banyak anak-anak yang menggunakan ponsel dengan akses wifi di sekitar desa. Hal tersebut terjadi saat bulan Ramadhan lalu.

Selain itu pihaknya mengaku sengaja membatasi penggunaan agar tidak melebihi dari kapasitas yang seharusnya. Terlebih, cuaca juga menjadi faktor yang mempengaruhi kualitas kecepatan jaringan.

“Kalau cuacanya lagi kurang bagus sinyalnya juga jelek. Kalau sudah lemot begitu biasanya kita langsung lapor ke pihak perusahaannya. Sementara jangkauannya juga memang terbatas, hanya sekitar 50 meter dari lingkungan kantor desa,” pungkasnya. (M. Rizal Jalaludin)