Selasa, Agustus 21, 2018
Home > Peristiwa > Sukabumian > Peran Parpol Lemah, Gerakan Buruh Berpotensi Menjadi Politik Alternatif

Peran Parpol Lemah, Gerakan Buruh Berpotensi Menjadi Politik Alternatif

Masaginews.com – Sejak mMemasuki era reformasi, buruh telah diberikan kebebasan untuk berserikat, termasuk melakukan aksi mogok kerja dalam menuntut haknya. Hal inilah yang menyebabkan tumbuh suburnya berbagai serikat buruh. Tidak sedikit dari mereka berani memperjuangkan hak setiap buruh.

Hal ini diungkapkan Anggota Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning dalam siaran pers yang diterima Masaginews.com terkait Hari Buruh Internasional yang diperingati hari ini, Selasa (1/5).

Dikatakannya di era keterbukaan politik saat ini, telah menjadi jembatan bagi gerakan buruh menjadi lebih besar dan mampu memperjuangkan hak-hak pekerja.

“Tapi sayang, beberapa serikat buruh mulai berpolitik praktis dengan dimulai mendukung salah satu pasangan dalam Pilgub DKI. Bahkan dengan menggunakan taktik isu SARA,” ulas Ribka.

Saat ini, menjelang Pemilihan Presiden pada 2019 mendatang, terindikasi ada serikat buruh yang mendukung salah satu bakal calon presiden.

“Saya mengecam sikap serikat buruh yang seperti ini. Selain mengundang politik transaksional, sikap politik semacam ini hanya akan melemahkan gerakan buruh itu sendiri,” tandas wakil rakyat dari dapil Kota dan Kabupaten Sukabumi ini.

Seharusnya gerakan buruh menjadi kekuatan politik alternatif, ditengah peran parpol yang tidak maksimal dalam memperjuangkan kepentingan kaum pekerja.

Masih banyak pekerjaan rumah bagi gerakan buruh. Seperti menuntut penghapusan buruh outsourcing, tolak upah murah (penghapusan PP No 78Tahun 2015), tolak kriminalisasi buruh serta usut kembali kasus kematian Marsinah.

Semantara itu terkait peringatan hari buruh internasional, Ribka sedikit mengurai mengenai latar belakang lahirnya hari besar bagi para buruh tersebut, termasuk sejarah perjalanan peringatan hari buruh di negeri ini.

Peringatan May Day adalah peringatan kemenangan bagi kaum buruh dalam memperjuangkan tuntutan 8 jam bekerja sehari. Peristiwa tersebut terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1886.

Di Indonesia, Hari buruh sudah diperingati sebelum republik ini berdiri. Hingga pemerintahan orde lama, May Day masih tetapk diperingati. Namun di masa orde Baru, terdapat larangan bagi kaum buruh untuk merayakannya.

Pada tahun 1995, para buruh di Indonesia kembali memperingati hari kebesarannya tersebut. Namun pada hari perayaannya diwarnai tindak kekerasan. Kala itu 15 peserta aksi ditangkap. Sebagian besar terluka karena ditabrak motor jenis trail, dipukul dan ditendang oleh para petugas keamanan. (*)

REKOMENDASI:

Someone Immortalized Leonardo DiCaprio’s Oscar Win With a Giant Mural... Duis vel nibh at velit scelerisque suscipit. Curabitur turpis. Vestibulum suscipit nulla quis orci. Fusce ac felis sit amet ligula pharetra condimentum. Maecenas egestas arcu quis ligula mattis placerat. Duis lobortis m...
Diguncang Gempa Beruntun Rumah di Kabandungan Ambruk Kabupaten Sukabumi - Gempa yang mengguncang Kabupaten Sukabumi beberapa saat pada Sabtu siang menimbulkan kerusakan dua unit rumah wilayah Kecamatan Kabandungan. Relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Keca...
Basarnas “Keukeuh” Jasad Wanita Terdampar Setahun Silam Ad... Kabupaten Sukabumi - Badan SAR Nasional (Basarnas) Pos Sukabumi sempat memastikan jasad wanita tidak utuh yang ditemukan Polsek Cisolok terdampar di Pantai Karangpapak merupakan jasad Nining Sunarsih yang hilang tenggela...
China Adopts First Counter-Terrorism Law Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricie...
UN security council adopts resolution on Syria peace process Duis vel nibh at velit scelerisque suscipit. Curabitur turpis. Vestibulum suscipit nulla quis orci. Fusce ac felis sit amet ligula pharetra condimentum. Maecenas egestas arcu quis ligula mattis placerat. Duis lobortis ...