Gelar Teatrikal Tabur Bunga di DPRD Sukabumi, Mahasiswa Minta Pemilu Serentak Dihapuskan

M Rizky
Reporter Kota Sukabumi

Kota Sukabumi – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Sukabumi, menggeruduk Gedung DPRD Kota Sukabumi, Senin (27/05/2019). Aksi tersebut di lakukan terkait penolakan pemilu serentak yang di laksanakan pada tanggal 17 April lalu.

Namun sayang, dalam aksi yang dilakukan puluhan mahasiswa tersebut, tak ada satu pun perwakilan DPRD yang menemui mereka. Bahkan, beberpa petugas keamanan pun tak kuasa menahan para pendemo yang merangsek masuk ke area Gedung DPRD Kota Sukabumi.

Di dalam gedung, lagi-lagi tidak ada satupun anggota dewan yang ada dilokasi. Akhirnya, mahasiwa pun masuk ke area ruang rapat DPRD, mereka langsung melakukan orasi dan melakukan teatrikal dengan menyimpan boneka berbentuk pocong.

Tak hanya itu, mereka juga menabur bunga di sejumlah meja yang biasa digunakan rapat para anggota dewan.

“Ada beberapa tuntutan yang kita ajukan kepada dewan, untuk di sampaikan ke pemerintah pusat. Yang pertama, meminta merevisi undang-undang, yakni UUD Pemilu No 7 Tahun 2017, tentang pemilu serentak,” ujar koordinator aksi yang juga Ketua Umum IMM Sukabumi, Rajib Rivaldi.

Terkait Pemilu serentak, kata dia, pihaknya akan mendesak kepada Polri hingga Pemerintah agar melaksanakan aturan yang berlaku. Selain itu, dirinya juga meminta agar peraturan tersebut tidak disalahgunakan supaya tidak menyebabkan banyak korban di kalangan masyarakat sipil.

“Kita mendesak bahwa saat ini darurat kemanusiaan, bahwa Polri dan pemerintah lainya harus melaksanakan aturan-aturan yang berlaku. Aturan Polri yang menyatakan bahwa pendapat di muka umum itu harus benar-benar di gunakan, jangan sampai mereka salahgunakan, bagaimana rakyat sipil menjadi taruhannya dan banyak korban,” tegasnya.

Dalam aksi teatrikal, mahasiswa melakukan tabur bunga hingga menyimpan boneka berbentuk pocong di atas meja ruang rapat paripurna DPRD Kota Sukabumi. Menurutnya, hal itu sebagai bentuk duka cita mendalam,sebab banyak korban jiwa maupun meninggal dunia yang di sebabkan oleh pemilu serentak. Maka dari itu, pihaknya meminta kepada pemerintah agar merevisi UUD Pemilu Serentak.

“Tabur bunga itu melambangkan rasa duka cita kita, duka cita bagaimana banyak korban paska demokrasi ini, demokrasi saat ini sedang terluka, bahwa pemilu serentak ini sangat luar biasa banyak korban, bukan hanya penyelenggara saja, tetapi paskanya. Rakyat yang menjadi korbannya, banyak luka disana, dan saya meminta pemilu serentak itu tidak perlu di adakan lagi,sudah revisi saja undang-undang ini,” tegasnya.

Hingga aksi yang dilakukan mahasiswa, tak ada anggota dewan yang menemui pendemo. Akhirnya, mahasiswa pun membubarkan diri dengan aman. (Ricky)