Penanganan Luka Bakar: Langkah Apa yang Harus Dilakukan Sebelum ke Rumah Sakit?

Ilustrasi/Net

Luka bakar merupakan salah satu kondisi gawat darurat yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian terakhir oleh Wardhana dkk menyebutkan bahwa sebagian besar penyebab luka bakar adalah ledakan gas LPG. Luka bakar pun sering dialami oleh masyarakat urban yang tinggal di perkotaan padat penduduk.

Melihat fenomena tersebut, pemahaman mengenai penanganan luka bakar, khususnya sebelum sampai ke fasilitas kesehatan, menjadi penting mengingat penanganan awal yang baik pun akan memberikan hasil penyembuhan yang baik. Hingga saat ini, masih banyak paradigma masyarakat yang keliru terkait penanganan luka bakar.

Masyarakat masih memiliki pemahaman bahwa area luka bakar perlu segera diberikan mentega, pasta gigi, atau es batu. Hal ini pun ditemukan oleh Alomar dkk dalam artikel jurnal “Knowledge, attitude, and belief regarding burn first aid among caregivers attending pediatric emergency medicine department”.

Dalam artikel tersebut, ditemukan bahwa masih ada paradigma dalam masyarakat di salah satu rumah sakit di Saudi Arabia yang menggunakan pasta gigi, saus tomat, mentega, yogurt, tepung, dan produk lainnya. Padahal, pemberian bahan-bahan tersebut tidak direkomendasikan. Bahkan, pemberian bahan-bahan tersebut justru mempersulit dan memperlama penyembuhan luka bakar karena bahan tersebut memicu terjadinya infeksi.

Tatalaksana awal luka bakar dilakukan dengan menghentikan paparan sumber panas pada kulit yang terkena luka bakar. Secara singkat, bila pasien mengalami luka bakar dengan kobaran api yang besar, hal yang dapat dilakukan adalah Stop atau berhenti dan jangan berlari bila api masih ada agar kobaran api tidak semakin besar.

Drop, menjatuhkan diri ke lantai bila api menyambar besar pada badan, dan Roll and Cover yaitu menggulingkan badan hingga api padam dan melindungi wajah dan mulut dari kobaran api. Selanjutnya, area yang mengalami luka bakar dialiri air dingin mengalir (dapat menggunakan air keran) dengan suhu sekitar 2-15oC segera setelah terjadi luka bakar dengan durasi selama 20 menit.

Hal ini dilakukan untuk mendinginkan area luka bakar, menurunkan sensasi nyeri pada pasien, dan membantu proses reepitelisasi jaringan sehingga penyembuhan luka akan baik. Bila pasien masih menggunakan perhiasan, jam tangan, dan pakaian yang terkena api atau bahan penyebab luka bakar, seluruh hal tersebut harus dilepaskan.

Seluruh pasien yang mengalami luka bakar, baik luka bakar minor maupun mayor, perlu dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk dilakukan tatalaksana lebih lanjut. Penentuan apakah seorang pasien luka bakar harus dilakukan rawat inap atau tidak dilaksanakan oleh tenaga medis dengan menilai luas area luka bakar dan kedalaman luka bakar.

Penulis : dr Lady Aurora Dokter RS Hermina Sukabumi