Ditengah Keterbatasan Fisiknya, Mak Unah Mengabdikan Diri Menjadi Guru Ngaji

Kota Sukabumi – Adalah Unah (71), seorang lansia dari Kampung Cikundul Girang RT 02 RW 07, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kabupaten Sukabumi ini masih tetap semangat mengabdikan dirinya menjadi guru ngaji meski dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.

Sejak lahir, Mak Unah begitu ia akrab disapa tak memiliki kedua tangan dan hanya memiliki satu kaki. Bahkan kini janda dua anak ini hanya tinggal bersama cucunya, Anis (13) sejak suaminya meninggal dunia dan kedua anaknya tinggal di tempat terpisah.

Setiap harinya, untuk mengajar ngaji anak-anak ia harus bersusah payah berjalan merangkak sejauh 20 meter menuju masjid. Meskipun demikian ia rela melakukannya tanpa mengharap imbalan sepeserpun.

“Kadang mengajinya di masjid atau dirumah saya. Kalo harus di masjid ya terpaksa merangkak, sebetulnya kesulitan juga karena tidak punya tongkat,” ujarnya.

Ia juga mengaku sering dihinggapi kesedihan disaat-saat sulit karena teringat keluarganya, mengingat ia kini hanya tinggal berdua. Terlebih tempat tinggal yang kini dihuninya jauh dari kata layak.

Rumah panggung seluas 5×4 meter persegi tersebut hanya beralaskan dan berdinding bilik bambu tua yang sudah rapuh. Jika musim hujan tiba kondisinya sangat memprihatinkan karena atap rumahnya tak mampu lagi menahan air hujan.

“Kalau sudah hujan apalagi jika dibarengi petir, saya langsung mengungsi ke rumah saudara karena takut runtuh dengan kondisi bangunan yang sudah rapuh begini sering bocor,” jelasnya.

Lebih miris lagi, di tempat tinggal Mak Unah tak dilengkapi dengan toilet dan kompor. Sehingga jika akan mandi, cuci dan kakus ia harus mengambil air dari sumur yang ada di depan rumahnya. Ia menarik sendiri timba air dengan kedua tangannya yang tidak sempurna.

Sementara untuk memasak, ia menggunakan kayu bakar yang diperoleh dari hutan yang cukup jauh dari rumahnya. Namun ia kerap dibantu cucunya untuk mencari kayunya.

Sementara itu, Esih (43) salah seorang saudaranya juga turut membantu kehidupan Mak Unah untuk makan dan keperluan sehari-harinya.

“Anak-anaknya jarang datang. Jadi untuk makan kadang saya kirim, tapi kadang murid ngajinya juga kerap mengirim makanan dan uang untuk dibelanjakan,” tuturnya.

Esih juga mennyebutkan bahwa Mak Unah juga mendapatkan bantuan sembako dari Pemda setempat, namun sudah dua bulan terakhir bantuan tersebut tak pernah diterimanya lagi. Ia berharap Pemda setempat bisa lebih memperhatikan kondisi Mak Unah agar bisa hidup lebih layak.

Reporter: M. Rizky
Redaktur: Ari Wahyuni