Ini Kata Asep, Pemilik Batu Akik yang Bersinar Jika Terkena Air

Kabupaten Sukabumi – Siang itu, Asep Suparman alias Ehe terlihat memasuki sebuah rumah makan dikawasan Cibadak Kabupaten Sukabumi. Sebelum makan, Ehe terlebih dahulu menuju wastafel yang ada di salah satu dinding ruangan untuk mencuci tangan.

Saat tangannya dibasuhi air, ada hal yang aneh di salah satu jari kelingkingnya yang menyala. Sontak, para pengunjung yang ada di rumah makan sedang santap siang nampak terkejut oleh pemandangan tersebut.

Tak berlangsung lama, pria berusia 46 tahun itu segera beranjak dari wastafel dan memilih kursi dimeja deretan tengah. Sejenak setelah dia duduk, salah satu pengunjung yang penasaran dan mendekati untuk bertanya terkait sinar yang tadi.

“Ini batu asli bukan kaca atau pualam, silahkan diamati secara seksama,” tutur Ehe kepada pengunjung yang mendekatinya tadi.

Serentak, kursi yang diduduki Ehe langsung dikerubuti, lantaran penasaran ingin melihat secara dekat kelebihan baru yang diikat dengan baja putih itu.

Menurut Ehe yang tinggal di Karet Ceger, Desa Cikaret, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, batu miliknya tersebut memiliki kelebihan, akan menyala selama dicelupakan dalam air atau ditetes dan sinarnya padam ketika diangkat dari celupan air. “Silahkan dicoba sendiri, itu ada mangkok yang beriai air putih,” katanya kepada salah seorang yang mendekat.

“Mungkin batunya di isi bohlam kecil dan di “charge” hingga bisa menyala,” sahut seseorang pengunjung yang berada meja pojok.

Ehe pun menimpalinya dengan mempersilahkan orang tersebut untuk memeriksa secara detail batu akik itu, supaya bisa dibuktikan apa benar dibenamkan bohlam berukuran kecil.

Ehe menjelaskan, batu langka tersebut diperoleh dari orang tuanya. Menurutnya, orangtuanya tersebut turun temurun dari leluhurnya, hingga saat ini dia miliki. “Menurut riwayat, ini warisan dari kakek dan turun ke ayah saya. Ayah saya bernama bapak Ma’ih sudah wafat tahun 2002 lalu diusia 76 tahun. Dan batu ini jatuh (diwariskan) kepada saya,” jelas Ehe, salah seorang aktivis dan juga sebagai pendamping sosial di Sukabumi ini, kepada Masaginews.com, yang juga  Selasa (12/11/2019).

Terang dia, batu tersebut sejak dulu saat dipakai ayahnya memang seperti itu dan selalu jadi tontonan manakala ayahnya sedang cuci tangan dan dilihat oleh orang lain. “Ayah saya berpesan untuk selalu merawatnya sampai kapanpun tidak akan dijual atau berikan kepada orang yang bukan haknya,” ujarnya.

Namun, jelas dia, jika barang tersebut diberikan kepada keturunan atau ahli waris tidak jadi masalah. “Iya, kecuali kepada keturunan atau ahli waris Asep Suparman ini, itu “papadon ti kolot abdi” (itu pesan dari orang tua saya),” tandasnya. ***

Lebih jelasnya, tonton video ini https://youtu.be/ippGdPwG5nE