Puluhan Tahun Sampah Menggunung di Pantai Loji Simpenan

Kabupaten Sukabumi – Puluhan tahun tumpukan sampah di Pantai Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi terus menggunung. Bahkan seperti tidak ada yang peduli padahal lokasi tersebut masuk ke dalam zona Geopark Ciletuh Palabuhanratu yang notabene merupakan geopark dunia.

Dari pantauan di lokasi, keindahan alam terlihat dari segi kelestariannya seperti lingkungan yang bersih, rapih dan tertata adalah bentuk kecintaan manusia terhadap alam sekitar. Namun, berbeda dengan dengan Pantai Loji, Desa Loji sampah bertebaran di mana-mana mulai dari ranting pohon, plastik, sabut kelapa, sampah rumah tangga, botol kaca dan juga terdapat kontoran manusia dan hewan.

Informasi yang dihimpun, faktor pemicu banyaknya sampah di pantai tersebut adalah kebiasaan masyarakat yang selalu membuang sampah ke aliran sungai. Sehingga terbawa hingga ke laut dan terdampar di pantai akhirnya semakin menumpuk.

Masyarakat di sekitar pantai hanya mengambil sampah plastik yang masih bisa digunakan untuk bisa dijual lagi. Sebagian sampah lainnya ada yang dibakar, tetapi tidak mengurangi volume sampah yang berserakan di pantai tersebut.

Kepala Divisi Operasional, Sumber Daya Manusia dan Latihan Balawista Kabupaten Sukabumi Asep Edom Saepulloh Asep mengatakan walaupun upaya dibersihkan dengan berbagai cara dan dengan alat berat tetap akan limbah dari gunung dan masyarakat yang membuang sampah sembarang terus menumpuk.

“Di sekitar Pantai Loji terdapa aliran sungai itu terbentang dari Cicurug-Cibadak yang bermuara di Palabuhanratu atau Pantai Loji. Air sungai tersebut setiap harinya membawa sampah yang akhirnya terdampar di pantai ini dan semakin menumpuk hingga sekarang,” ujarnya.

Lanjut dia, sebelum ada PLTU sampah tersebut terbagi dua sesuai arus laut kadang bertumpuk di Cipatuguran, setelah ada dermaga PLTU semua sampah dari sungai numpuk di Pantai Loji. Untuk mengatasi hal ini ini ada beberapa cara yang bisa diatasi.

Seperti kesadaran masyarakat tidak membuang sampah ke sungai, adanya rutinitas perawatan/bersih-bersih pantai oleh masyarakat setempat dan pemerintahan terkait, membuat pintu air di Jembatan Bagbagan (penyaring sampah) dan harus ada payung hukum yang jelas seperti sangksi untuk siapapun yang membuang sampah sembarangan.

Jika tidak dilakukasn sejak dini mau kapan lagi, apalagi lokasinya berada di wilayah Geopark. Sehingga sampah akan terus menggunung jika tidak ditangani secara serius seperti ini. Dampaknya pun pasti sudah dirasakan seperti rusaknya lingkungan, ikan sudah sulit didapat belum lagi penyebaran penyakit.

“Sebenarnya sampah itu jika dikelola dengan baik bisa menjadi peluang ekonomi seperti melakukan daur ulang dan lain-lain,” kata Asep. (Atin Nindia)