Terancam Punah, Puluhan Kukang Jawa Dilepas di TNGHS

Kabupaten Sukabumi – Sebanyak 3O individu Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) dilepasliarkan ke habitatnya, di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Rabu (18/12/2019).

Puluhan primata yang dilindungi dan terancam punah tersebut, merupakan hasil serahan masyarakat secara sukarela melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan BKSDA Jakarta yang selanjutnya dititip rawatkan di Pusat Rehabilitasi Primata milik Yayasan lnisiasi Alam Rehabilitasi (IAR) Indonesia, di Bogor.

Selain memberikan kesempatan kedua bagi kukang hasil serahan, pelepasliaran primata endemik jawa itu juga menjadi salah satu upaya untuk mendukung keberlangsungan proses ekologis di dalam kawasan konservasi. Serta menjaga dan meningkatkan populasi jenis primata sebagai satwa endemik yang jumlahnya kian menurun.

Pelaksana tugas Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Ahmad Munawir mengatakan, pelepasliaran kukang ini terbagi ke dalam dua tahap, yakni sebanyak 15 ekor di tahap pertama dan sudah dilaksanakan pada Selasa (3/12) lalu. Sedangkan tahap kedua sebanyak 15 ekor yang dilaksanakan Rabu (18/12/2019).

Menurut dia, primata yang terancam punah tersebut, akibat perdagangan dan pemeliharaan ilegal. Dan kini, telah menjalani perawatan di Pusat Rehabilitasi Primata Yayasan IAR Indonesia, kaki Gunung Salak, Bogor.

Kawasan TNGHS kata dia, dipilih sebagai lokasi Iepasliar berdasarkan penilaian kesesuaian habitat yang telah dilakukan sebelumnya oleh tim dari Balai TNGHS dan Yayasan IAR Indonesia.

“Program pelepasliaran ini tidak hanya melibatkan tim dari Balai TNGHS dan tim Yayasan IAR Indonesia, namun kami juga melibatkan masyarakat lokal di sekitar lokasi pelepasliaran dalam setiap prosesi program konservasi kukang ini, dimulai dari translokasi hingga monitoring,” ujarnya.

Dilibatkannya masyarakat sekutar, menurut dia, diharapkan agar bisa menjaga dan melindungi kukang di habitatnya dari berbagai ancaman.

Sementara itu, Manajer Operasional Yayasan IAR Indonesia Aris Hidayat mengatakan, satwa kukang yang dilepasliarkan tersebut telah menjalani proses dan tahapan yang panjang, dimulai dari karantina, melepasliarkan kembali ke habitatnya.

“Mengingat sabagian besar dari mereka merupakan kukang serahan, yang kondisinya memang membutuhkan penanganan khusus untuk memulihkan perilaku alamiahnya, agar mampu bertahan hidup kembali di alam bebas,” ujarnya. ***