Wisata Seks “Pasar Monyet” Palabuhanratu Tetap Eksis Meski Berganti Bupati

Ilustrasi

Kabupaten Sukabumi – Predikat wisata seks sudah sangat melekat di “Pasar Monyet” Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Bahkan beberapa kali pergantian kepala daerah (bupati) pun, bisnis “lendir” di lokasi ini tetap eksis meskipun berulang kali ditertibkan oleh petugas keamanan.

Tidak bisa dihapusnya, tempat yang dicap pusat prostitusi di Palabuhanratu tersebut karena setali tiga uang, ada yang memanfaatkan melalui pungutan, ada konsumennya dan tentunya ada penjaja seks yang siap melayani tamunya baik hanya untuk menemani kencan nyanyi di cafe, bahkan hingga ke ranjang.

Pantuan Masaginews.com langsung di lokasi, pada siang hari lokasi yang berada di pesisir Pantai Citepus ini terlihat sepi, hanya terlihat beberapa wanita yang hilir mudik dan nongkrong di cafe-cafe yang berderet di sepanjang pesisir. Bahkan ada juga wanita yang tengah mengasuh bayinya tepat di depan cafe.

Namun, saat hari mulai beranjak gelap, dentuman lagu dangdut hingga hiphop terdengar dari dalam cafe. Kawasan yang awalnya sepi berubah menjadi ramai, bahkan banyak wanita baik usianya masih belia hingga paruh baya berpakaian minim dan seksi nongkrong sambil menikmati sebatang rokok.

Tidak sedikit juga minuman keras yang mayoritas jenis bir dijajakan di cafe tersebut. Untuk menarik minta wisatawan berkunjung, wanita-wanita yang sudah berdandan cantik tidak segan menggoda dan merayu untuk mampir ke cafe yang lampunya remang-remang tersebut.

Ketua RT setempat Uli mengatakan Pasar Monyet ini sudah lama ada dan menjadi ikon di Palabuhanratu yang biasanya ramai pengunjung saat hari mulai gelap. Bahkan di akhir pekan pengunjung biasanya membludak yang mayoritas datang dari luar daerah.

Penghuni Pasar Monyet ini tidak hanya dari warga setempat tapi banyak pendatang yang mengadu nasib menawarkan jasa kencan pendamping lagu (PL) hingga urusan ranjang. Namun untuk karyawan cafe kebanyakan mereka hanya sebatas PL saja, tetapi yang freelance bisa diajak ngamar.

“Alasan ekonomi yang mendasari adanya mereka di sini, tidak hanya urusan seks saja beberapa cafe dan warung juga menyediakan miras. Kawasan prostitusi ini melekat karena tidak bisa menutup mata objek wisata pastinya membutuhkan tempat yang seperti ini bagi wisatawan,” ujarnya.

Sementara, Kepala Seksi Pemberdayaan Perlindungan Masyarakat Sat Pol PP Kabupaten Sukabumi Okih Pajri Assidiq mengatakan Pasar Monyet ini berulang kali ditertibkan pihanya bersama apara keamanan lainnya. Tetapi tidak lama muncul lagi dan sekarang sudah berani mendirikan bangunan.

“Sebenarnya kawasan Pasar Monyet ini diperuntukan untuk promosi dan penjualan cinderamata, kuliner dan jajanan khas Palabuhanratu, tetapi beralih fungsinya malah dijadikan cafe yang padahal dilarang keberadaannya,” paparnya. (M Rizal Jalaludin)